makalah tentang sejarah peradaban bani abbasiyah


SEJARAH PERADABAN
BANI ABBASIYAH
A.    Pendahuluan
Kaidah sebab akibat berlaku untuk semua bidang dalam kehidupan manusia. Hal ini sesuai dengan runtuhnya bani umayyah dan berdirinya bani abbasiyah.menjelang akhir  daulah umayyah terjadilah bermacam-macam kekacauan dalam segala cabang kehidupan Negara yaitu terjadinya kekeliruan-kekeliruan dan kesalah-salahan yang dibuat oleh para kholifah dan para pembesar Negara lainnya, yang kemudian terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap ajaran Islam.
Diantara kesalahan dan kekeliruannya antara lain:
1.      Politik kepegawaian yang didasarkan pada golongan suku kaum dan kawan.
2.      Penindasan yang terus menerus terhadap pengikut-pengikut ali pada khususnya dan pada bani hasyim pada umumnya.
3.      Penganggapan rendah terhadap kaum muslimin yang bukan bangsa Arab sehingga mereka tidak diberi kesempatan dalam pemerintahan
4.      Pelanggaran terhadap ajaran Islam dan Hak Asasi Manusia yang secara terang-terangan.
Oleh sebab itu mereka yang tertindas mencari jalan untuk bebas dari penindasan itu. Seperti yang dilakukan oleh keurunan Bani Hasyim dan Abbasiyah yang ingin bebas dari penindasan Bani Ummayyah dengan mencari jalan bebas yaitu dengan mendirikan gerakan rahasia untuk menumbangkan Daulah Umayyah. Dinasti Abbasiyah ini bercorak pluralistic, etnis, saintifik dan religius dan merupakan simbul keemasan peradaban Islam klasik. Karakteristik pemerintahan yang diwarnai corak keIslaman tersebut menorehkan prestasi luar biasa yang dicatat oleh tinta emas sepanjang sejarah manusia.kemajuan peradaban Arab-Islam dalam ilmuy pengetahuan dibidang kedokteran,farmasi, astronomi, geografi dan lain-lain juga akan anda jumpai dalam periode Dinasti Abbasiyah ini.

B.     Berdirinya Bani Abbasiyah
Pemberontakan terhadap bani umayyah yang dipimpin oleh al-abbas
(paman nabi) terah berhasil dan dilanjutkan oleh anaknya yaitu Abdulloh dan cucu cicitnya yaitu Muhammad dan Ibrahim. pada tahun 734 Muhammad meninggal sehingga kegiatan dipadatkan oleh ibrahim, beberapa utusan dikirim ke propinsi persia khurasan, salah orang yang terpenting disini adalah Abu Muslim. pada tahun 747 Abu Muslim mulai mengibarkan bendera hitam gorongan abbasiyah. sebagian tentara yaman dipihak umayyah dapat ditarik dipihak abbasiyah dan sedikit demi sedikit gubernur dan tentaranya umayyah dapat diusir ke barat. setelah mengalahkan musuh dari shuriah sarah satu pasukan abbasiyah berhas'memasuki rrak dan menduduki Kufah. Tak lama kemudian Abu Musrim mempunyai terik supaya mendapat dukungan ia mengaku bahwa ia adalah keluarga Muhammad yang direstui tapi sayang Ibrahim ditawan oreh Marwan II tahun 748 dan tahun 789 meninggal dari sini menyebabkan kesangsian siapa yang dipilih menjadi penerus, tapi karena keluarga abbasiyah di kufah dan kedatangan Abu Muslim maka penerusnya adalah saudara Ibrahim yaitu Abur Abbas. pada tahun 750 Marwan II dikalahkan di pertempuran zab huru, dia kemudian rari ke Mesir. Sementara keluarga abbasiyah lambat laun menduduki kota-kota dan mengambil alih pemerintahan. Mereka membunuh semua keluarga umayyah.[1] Dinasti ummayah runtuh pada tahun 1300 hijriyah, mulailah Abu al-Abbas yang bergelar as-Saffah mendirikan negara Isram di Khurasan yang merupakan batu pertama berdirinya khilafah islamiyah terbesar, yaitu dinasti Abbasiyah.
Kekuasaan dinasti abbasiyah ini meranjutkan kekuasaan dinasti umayah. Dinamakan kholifah bani abbasiyah karena para penguasa dinasti ini adalah keturunan al-Abbas parnan nabi Muhammad saw. pendiri dinasti abbasiyah adalah Abdulloh ar-saffah ibnu Muhammad ibnu Ali ibnu Abdulloh ibnu al-Abbas.[2]

a.       Faktor-faktor penyebab berdirinya daulah abbasiyah
Adapun faktor berdirinya daulah abbasiyah antara lain:
1.      Faktor internal yaitu kelompok abbasiyah merasa lebih utama dari pada bani Hasyim untuk mewarisi paman Rosululoh saw karena nenek moyang mereka adalah paman Rosululloh dan pusaka peninggalan tidak boleh pihak sepupu jika ada paman keturunan dari anak perempuan tidak mewarisi pusaka datuk dengan adanya pihak ashabiyah.
2.      Faktor eksternal yakni pemerintah daulah umayah menerapan nepotisme yakni kepegawaian pemerintah berdasarkan suku, golongan dan kawan.
3.      Adanya deskriminasi arab dengan non arab, sehingga menghidupkan kembali fanatik arab (al-ashabiyah al-arabiyah). Oleh karena itu menurut Atho Mudhzar bahwa yang dilakukan bani umayah merupakan pengalaman teori faksionalisme rasial, artinya bahwa daulah bani umayah itu pada dasarnya adalah suatu kerajaan Arab yang sangat melalaikan  kepentingan non arab(mawalli)
4.      Adanya paham Khawarij, Syi'ah dan Mu'tazilah sebab konsep imamah
Khawarij dan Mu'tazilah bahwa kepemimpinan adalah hak dari setiap orang Islam. Dengan demikian hal ini dapat menghancurkan sistem kepemimpinan daulah bani umayah yang menganggap bahwa urusan kepemimpinan hak mutlak kaum Quraisy.[3]
b.      Srategi pendirian daulah Bani Abbasiyah
Cara pendirian bani abbasiyah ini menggunakan strategi revolusi yang handal antara lain:
1.      Strategi bawah tanah yang dipimpin oleh M.Ali AMulloh bin Abbas
2.      Upaya propoganda secara rahasia tentang hak kekholifahan Bani Hasyim dan Bani Umayah.
3.      Pemanfaatan kaum muslimin non arab yang dinomorduakan.
4.      Propoganda secara terang-terangan setelah betrok senjata yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Hurasani.[4]
c.       Kholifah Pemerintah Bani Abbasiyah
Bani Abbaisyah memegang kekuasaan Islam dari tahun 132 H (750 M)
Sampai 656 H (1258 M). Kholifah-Kholifah tersebut antara lain:
No
Nama Kholifah
Tahun
No
Nama
Kholifah
Tahun
1
Abu abbas as-Saffah
750-754M
20
Al-Qahir
932-934M
2
Abu Ja’far al-Mansur
754-775M
21
Al-Radi
934-940M
3
Al-Mahdi
775-785M
22
Al-Muttaqi
940-944M
4
Al-Hadi
785-786M
23
Al-Mustakfi
944-946M
5
Harun ar-Rosyid
786-809M
24
Al-Muti
946-974M
6
Al-Amin
809-813M
25
Al-Ta’i
974-991M
7
Al-Ma’mun
813-817M
26
Al-Qadir
991-1031M
8
Ibrahim
817-833M
27
Al-Qa’im
1031-1075M
9
Al-Mu’tasim
833-842M
28
Al-Mu’tadi
1075-1094M
10
Al-Wathiq
842-847M
29
Al-Musthazir
1094-1118M
11
Al-Mutawakil
847-861M
30
Al-Murtasyid
1118-1135M
12
Al-Muntasir
961-862M
31
Al-Rasyid
1135-1136M
13
Al-Musta’in
862-866M
32
Al-Muktafi
1136-1160M
14
Al-Mu’tazz
866-869M
33
Al-Mustanjid
1160-1170M
15
Al-Muhtadi
869-870M
34
Al-Mustadi
1170-1180M
16
Al-Mu’tamid
870-892M
35
Al-Nashir
1180-1196M
17
Al-Mu’tadid
892-902M
36
Al-Zhahir
1196-1226M
18
Al-Muktafi
902-908M
37
Al-Mustankhir
1226-1242M
19
Al-Muqtadir
908-932M

Al-Mustaslim
1242-1258M
 Delama dinasti ini berkuasa,pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, social dan budaya. Berdasarkan perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasanya membagi masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode:
1.      Periode Pertama (132 H/750M-232H/847M), disebut periode pengaruh Persia pertama
2.      Periode Kedua (232H/847M – 334H/945M), disebut pengaruh Turki pertama
3.      Periode Ketiga (334H/945 M – 447H/1055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut pengaruh persia kedua
4.      Periode Keempat (447 H/l055 M-590H/1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua.
5.      Periode Kelima (590 fvll94 M-556 W1258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad.
Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik sekaligus agama. Di sisi lain, kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang.[5]

C.    Roda Pemerintahan Bani Abbasiyah
Bani abbasiyah telah memenangkan dengan cara menempatkan dengan hati-hati pada aliran syi'ah. Tetapi setelah memegang kekuasaan mereka segera melepaskan komufrase religius dan menunjukkan bahwa mereka bertekad menjadikan kekholifahan mereka sebagi monarki absolute dalam lingkup pertanian tradisional. Abu abbas as-Saffah sebagai kholifah pertama sekaligus pendiri daulah abbasiyah ini mempunyai julukan as-Saffah
yang menyiratkan kemuliaan sekaligus kebengisan berdarah dalam melaksanakan balas dendam ilahi.[6] Kholifah ini membantai semua keluarga bani ummayah dengan cara mengundang mereka untuk jamuan makan setelah
itu mereka dibunuh dan bani abbasiyah merayakan kemenangannya diatas kematian bani umayyah hal tersebut tidak pernah terpikirkan oleh bangsa arab.[7] Tetapi perlu diketahui bahwa masa pemerintahan kholifah ini berlangsung hanya sebentar.
Setelah kholifah Abu Abbas as-Saffah selesai memimpin lalu diganti
oleh Abu Ja'far al-Mansur (754-775M), beliau diberi julukan al-Mansur yang berarti Tuhan memberi bantuan khusus untuk mencapai kemenangannya. Kholifah ini dengan keras menghadapi lawannya dari khawarij, syi'ah dan umayah dengan keras yaitu dengan membunuh para pemimpin syi'ah yang dipandang membahanyakan kekuasaannya. Bahkan kedua pamannya, Abdulloh bin Ali dan sholih bin Ali yang menjadi gubernur di Syiria dan Mesir karena tidak mau membaitnya dibunuh oleh Abu Muslim al-Khurasan atas perintah Abu Ja'far al -Mansur. Pada mulanya ibu kota negara adalah al- Hasyimiyyah dekat Kufah, namun untuk memantapkan dan menjaga stabil negara yang baru berdiri itu al-Mansur memindahkan ibu kota negara ke Baghdad dekat kota Persia catesiphon dengan alasan kota Baghdad ini terletak ditepi sungai Trigis dan disini digunakan sebagai pusat ekonomi karena letak ini merupakan persimpangan jalan perdagangan yang penting dan mewah selain itu bertujuan untuk menguasai pertanian Sawad. Dan di ibu kota ini al-Mansur mengendalikan kekaisarannya dengan sistem birokrasi yaitu dengan melakukan konsolidasi dan penertiban pemerintahannya.[8] Dia mengangkat sejumlah personal untuk menduduki jabatan dilembaga ekskutif dan yudikatif dibidang pemerintahan dan menciptakan tradisi baru dengan mengangkat wazir yang dalam bahasa arab berarti pembantu atau penunjang. wazir ini bertugas sebagai koordinator departemen sedangkan wazir pertama yang diangkat adalah Kholid bin Barmok yang berasal dari Balakh Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sekretaris negara dan kepolisian negara.[9] Dan memperbaiki sistem komunikasi antar wilayah yaitu membentuk
jawatan pos dengan adanya jawatan pos ini berguna untuk melaporkan segala hal ikhwal para gubernur kepada kholifah.
Disamping memindatr ibu kota kholifah ini juga berhasil menaklukan kembali daerah-daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat dan memantapkan keamanan didaerah perbatasan dan menarik tanggapan masyarakat tentang sulthon allah fi al-ardli dan pada pemerintahan ini terkenal akan ketatnya pengawasan terhadap keuangan.[10] Dasar-dasar pemerintah Daulah Abbasiyah ini diletakkan dan dibangun oleh Abu Abbas dan Abu Ja'far al-Mansur maka puncak keemasannya dinasti ini berada setelah kholifah mereka yaitu al-Mahdi (775-785M), al-Hadi (785-786M), Harun ar-Rosyid (786-809M), al-Ma'mun (813-833M), al-Mukrasim (833-842M), al-Wathiq (842-547W dan al-Mutawakil (847-86 I M)[11]
Pada masa al-Mahdi (775-785M) kholifah ini mendapat julukan al-Mahdi yang berarti mendapat petunjuk, dia gagal ambil alih spayof al-Mahdi tidak mengadakan usaha besar untuk memulihkan propinsi- propinsi yang jauh
tersebut, ia hanya meneruskan kebijaksanaan dari ayahnya. Pemerintahannya menjalin hubungan antara istana dan faksi-faksi salih ynag kecewa. al-mahdi juga tidak melakukan usaha untuk memperlunak absolutisme yang sedang tumbuh. Ia juga tidak luput mendorong penyergapan-penyergapan di daerah-daerah perbatasan terhadap kekaisaran bizantium dan ia juga mengadakan peperangan sengit secara intern dengan pennganiayaan relegius terhadap para penganut agama Mani ( manicheisme). al-Mahdi disini menunjukkan dukungannya bagi kemurnian islam secara praktis dan mengorbankan sekte ini dengan membunuh anggota istana manapun  jika tidak membebaskan dirinya dari nodanya. Menjelang akhirnya pemerintahan al-Mahdi banyak ulama nampaknya telah didamaikan dengan kompromi 'abbasi dan kerajaan absolute telah memperoleh dukungan kelembagaan agama yang rendah yang dibutuhkannya. Bahkan sebagain besar pendukung khawarij dan syi'ah setidaknya rnau nrengakui keberhasilan de facto dari rejim .abbasi untuk sementara.[12] Masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan  peningkatan disektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga dan besi.[13]
Sebagai pengganti al-Mahdi setelah meninggal adalah putranya yaitu Harun ar-Rosyid (789-809M), ar-Rosyid dikenang dengan baik sebagai raja besar yang ideal dalam cerita seribu satu malam bahkan melambangkan masyarakat baghdad klasik pada kertinggiannya. Dibawah kekuasaan kholifah ini pemerintahan sebagain besar dilimpahkan pada aadministato, seorang wazir sebagai kepal keuangan dan pada umumnya sebagai kepala pemerintahan dan sekretaris-sekretarisnya dalam banyak biro(diwan) mereka. sang kholifah tidak secara niscaya diharapkan untuk mengambil peran pribadi dalam pemerintahan tetapi hanya sebagia dewan pertimbangan agung. Ar-Rosyid cenderung campur tangan terutama dalam masalah yang menjadi keprihatinan pribadinya seperti derma.[14] Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial. Rumah sakit, lernbaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Disamping itu, pemandian- pemandian umum juga dibangun. Kesejahteraan, sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya.[15] Karena pada minil inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkud dan tak tertandingi. harun ar-rosyid adalah seorang pendukung kesenian dan kesarjanaan dan mengilhami kebangkitan kembali kebudayaan yang besar. Kritik sastra, filsafat, puisi, kedokteran, maternatika dan astronomi berkembang pesat bukan hanya di Baghdad tetapi di kufah, basrah jundayvebar, dan harran. industri dan perdagangannya juga berkembang pesat. pada pemerintahan ini kelompok mu'tazilah yang yang tidak sepaham dengan ahli hadis. melihat adanya kekuatan gerakan relegius yang berusalra memberikan legimitasi islam bagi rezim mereka, maka pemerintahan mendukung adanya pengebangan fiqh untuk mengatur kehidupan masyarakat. taklama kemudian muncul para imam madzhab empat yaitu Imam Malik (Malik bin Anas yang lazim dianut oleh madinah, mesir dan afrika utara, beliau menghimpun kitab al-muwatta, Muhammad bin Idris asy-syaf i, Abu Hanifah dan Imam Hambali.pada akhir pemerintahan harun ar-rosyid ini membuktikan tidak ada pemerintahan tunggal yang mampu mengontrol wilayah yang luas sehingga terjadi keterpurukan dalam bidang ekonomi. untuk mengatasi masalah diatas ar-rosyid membagi kerajaan menjadi dua yang mengakibatkan adanya perang saudara hal ini membuktikan bahwa tidak ada motivasi ideologis atau relegius dalam perjuangan tersebut yang diandalakan hanya ambisi pribadi.[16]
Al-Ma'mun (813-833 M.), sebagai pemenang yang dapat menggantikan ar-Rosyid, dalam pemerintahannya muncul dua blok kekuatan yang penting yaitu aristekrat istana dan blok egaliter dan konstitusional. pada awal pemerintahannya ini diawali pemberontakan syi'ah di kufah dan basrah dan perlawanan khawarij di khurasan. ia mencoba untuk membujuk golongan ini untuk mengurangi ketegangan agarna. Namun kebijaksanaannya hanya memperburuk keadaan. sebagai seorang intelektual ia merasa tertarik dengan rasionalisme muktazilah dan membawa mereka ke pilihannya. ia juga melihat bahwa gerakan populis ahli hadis yang bersikukuh bahwa hukum Tuhan dapat secara langsung disentuh oleh setiap muslim manapuri, tidak sesuai dengan monarki absolut. ketika berkuasa kembali, dinasti muktazilah berpaling pada ahli hadist, maka terjadilah " inskuisi" (mihnah), dimana orang-orang ahli hadis terkemuka seperti ibnu hanbal drpenjara. Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid'ah oleh golongan salaf. khalifah dinasti Abbasiyah dengan menjadikan mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Tetapi dukungan yang diberikan muktazilah pada al- ma'mun tidak memberikan apa-apa. Ia dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemahAenerjemah dari penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolalr, salah satu karya besamya yang terpenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma'mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kepudayaan dan ilmu pengetahuan.
Al-Mu'tasim (813-833M) kholifah ini memperkuat dengan cara membentuk pasukan untuk melindungi krops pribadinya. Pasukan ini berasal dari budak-budak Turki yang ditangkap dari luar sungai Oxus dan islamkan tetapi upaya yang dilakukan ini menjadikan suasana tegang antara prajurit dengan masyarakat Bagdad. Untuk menghindari ketegangan tersebut kholifah memindahkan ibu kota pemerintahannya ke samaran. Rencana ini juga tidak berhasil kenyataannya Turki mempunyai hubungan kuat dengan masyarakat. Khalifah memberi peluang besar kepada orang-orang Turki untuk masuk dalam pemerintaharl keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa daulat Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina setara khuzus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikiaru kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat.
Pada masa al-Mutawakkil (847-861), aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan salaf kembali naik daun. Tidak tolerannya pengikut Hanbali itu (salaf) terhadap Mu'tazilah yang rasional telah menyempitkan horizon intelektual.
Dari gambaran di atas Bani Abbasiyah pada periode pertama lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Inilah perbedaan pokok antara Bani Abbas dan Bani Urnayyah. Sebagaimana diuraikan di atas, puncak perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi, tidak berarti seluruhnya berawal dari kreativitas penguasa Bani Abbas sendiri. Sebagian di antaranya sudah dimulai sejak awal kebangkitan Islam. Dalam bidang pendidikan, misalny4 di awal kebangkitan Islanr, lembaga pendidikan sudah mulai berkembang. Ketika itu, lembaga pendidikan terdiri dari dua tingkat :
1.      Maktab/Kuttab dan masjid, yaitu lembaga pendidikan terendatr" tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan" hitungan dan tulisan; dan tempat para remaja belajar dasar-dasar ilmu agam4 seperti tafsir, hadits, fiqh dan bahasa.
2.      Tingkat pendalaman. Para pelajar yang ingin menrperdalam ilmunya, pergi keluar daerah menuntut ilmu kepada seorang atau beberapa orang ahli dalam bidangnya masing-masing. Pada umunnya, ilmu yang dituntut adalah ilmu-ilmu agama. Pengajarannya berlangsung di masjid-masjid atau di rumah-rumah ulama bersangkutan. Bagi anak penguasa pendidikan bisa berlangsung di istana atau di rumah penguasa tersebut dengan memanggil ulama ahli kesana.
lembaga-lembaga ini kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani
Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi.[17]

D.    Puncak kejayaan bani abbasiyah
Sebagaimana tersebut diatas bahwa popularitas daulah abbasiyah mencapai puncaknya dzaman kholifah harun ar-rosyid dan putranya al-makmun (813-833M). Pada masa kekuasaan kholifah harun a-Rosyid (786-809M) transformasi selesai dilakukan. Ar-rosyid memerintah dengan gaya lama raja monarki absolut. Dia diisolasi oleh rakyatnya tradisi pada kholifah pertama telah digantiksn dengan kemewahan yang besar. Anggota istana harus
mencium bumi saat menghadap kholifah dan adanya para algojo yang berdiri dibelakangnya untuk mernrnjukkan bahwa kholifah memiliki kekuasaan atas hidup dan mati. Kholifah disini tidak menangani berbagai urusan umat tapi hal
itu diserahkan pada para pejabat. Walaupun tidak islaminya keadaan saat itu tapi pada kholifah ini merupakan tanda keberhasilan politik dan ekonomi, dan dibawah haru ar-Rosyidin ini imperium menikmati perdamaian yang belum pernah terjadi sebelumnya.[18] Keberhasilan tersebut disebabkan oleh kebijakan
para kholifah yang orientasinya terhadap pembangunan kebudayaan dan peradaban. Peranannya dalam memajukan ilmu pengetahuan antara lain :
1.      Pada masa itu dilakukan transfer ilmu pengetahuan dari yunani secara besar-besaran, diamana pada saat itu ilmu yunani sudah mati dan tidak berdaya yang tertinggal hany buku-bukunya. Penerjemahan secara besar- besaran ini ditandai dengan didirikannya sekolah tinggi penerjemah yang dilengkapi dengan berbagai tanman pustaka pada masa kholifah al-makmun
2.      Para kholifah abbasiyah memberikan dorongan kepada ahli dzimmah untuk mempelajari ilmu di Bizamtium dan menerjemahkan ke dalam bahasa arab.
3.      Kholifah al-makmun memberikan imbalan kepada setiap penerjemah buku dengan emas seberat buku yng diterjemahkannya.
4.      Harun ar-Rosyid memberikan 4.000 dinar kepada setiap penghafal al-qur'an periwayat hadist dan yang mendalami pengetahuan agama. Upaya penerjemahan yang dilakukan tidak hanya sekedar memindahkan bahasa asal ke bahasa arab, tetapi dikembangkan dalam bentuk penelitian secara cermat yang akhirnya buku-buku yunani tidak lagi digunakan sebagai buku pedoman tetapi mereka telah mampu menerbitkan karya terbaiknya misalnya al-razi (865-925m) dalam bidang kedokteran yang terkenal dengan karyanya smallpox and measles (campak dan cacar)[19]
Dan pada masa Harun ar-Rosyid ini kekayaan kekayaan banyak dimanfaatkan untuk keperluan sosial. rumah sakit, lembaga pendidikan dokter dan farmasi didirikan, pada masa ini sudah ada 800 dokier. selain itu tempat pemandian umum juga didirikan.
Disamping itu, faktor kemajuan itu, juga ditentukan oleh dua hal, yaitu:
a.       Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintalnn Bani Abbas, bangsa-bangsa non Arab banyak yang masuk Islarn Asimilasi berlangsung secrra efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh Persia, sebgaimana sudah disebutkan, sangat kuat di bidang pemerintahan. Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat dan sastra. Pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat.
b.      Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-Manshur hingga Harun al-Rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemahkan adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua berlangsung mulai masa khalifah al-Ma'mun hingga tahun 300 H. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. Pengaruh dari kebudayaan bangsa yang sudah maju tersebut, terutama melalui gerakan terjemahan bukan saja membawa kemajuan di bidang ilmu pengetahuan umum, tetapi juga ilmu pengetahuan agama. Dalam bidang tafsir, sejak awal sudah dikenal dua metode, penafsiran pertama tafsir bi al-ma'tsur, yaitu interpretasi tradisional dengan mengambil interpretasi dari Nabi dan para sahabat. Kedua tafsir bi al-ra'yi, yaitu metode rasional yang lebih banyak kepada pendapat dan pikiran dari pada hadits dan pendapat sahabat. Kedua metode ini memang berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas. Akan tetapi jelas sekali bahwa tafsir dengan metode bi al-ra'yi, (tafsir rasional), sangat dipengaruhi oleh perkembangan pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan. Hal yang sama juga terlihat dalam ihnu fiqh dan terUama dalam ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut. Imam-imam mazhab hukum yang empat, hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah QA0-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufatr, kota yang berada di tengah-tengah kebudayaan Persia yang hidup kemasyarakatannya telah mencapai tingkat kemajuan yang lebih tinggi Karena itu, mazhab ini lebih banyak menggunakan pemikiran rasional daripada hadits. Muridnya dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi al-Qudhat di zaman Harun al-Rasyid. Berbeda dengan Abu HanifatU Imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadits dan tradisi masyarakat Madinah. Pendapat dua tokoh mazhab hukum itu ditengahi oleh Imam Syaf i (767-820 M) dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-355 M). Disamping empat pendiri mazhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan mendirikan mazhabnya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab itu hilang bersama berlalunya zaman. Aliran-aliran teologi sudah ada pada masa Bani Umayyah, seperti Khawarij, Murjiah dan Mu'tazilah. Akan tetapi perkembangan pemikirannya masih terbatas. Teologi rasional Mu'tazilah muncul di ujung pemerintahan Bani umayyah. Namun, pemikiran-pemikirannya yang lebih kompleks dan sempurna baru dirumuskan pada masa pemerintahan Bani Abbas periode pertama setelah terjadi kontak dengan pemikiran Yunani yang membawa pemikiran rasional dalam Islam. Tokoh parumus pemikiran Mu'tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allat (135-235 H/752-849M) dan al-Nazzam (185-221 rv801-835M). Asy'ariyafu aliran tradisional di bidang teologi yang dicetuskan oleh Abu al-Hasan al-Asy'ari (S73-935 M) yang lahir pada masa Bani Abbas ini juga banyak sekali terpengaruh oleh logika Yunani. Ini terjadi, karena al-Asy'ari sebelumnya adalah pengikut Mu'tazilah. Hal yang sama berlaku pula dalam bidang sastra. Penulisan hadits, juga berkembang pesat pada masa Bani Abbas. Hal itu mungkin terutama disebabkan oleh tersedianya fasilitas dan transportasi, sehingga memudahkan para pencari dan penulis hadits bekerja Pengaruh gerakan terjemahan terlihat dalam perkembangan ilmu pengetahuan umum, terutama di bidang astronomi, kedokteran, filsafat, kimia dan sejarah. Dalam lapangan astronomi terkenal nama al-Fazari sebagai astronom Islam yang pertama kali menyusun astrolabe. Al-Fargani, yang dikenal di Eropa dengan nama Al-Faragnus, menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis. Dalam lapangan kedokteran dikenal nama al-Razi dan Ibn Sina. Al-Razi adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles. Dia juga orang pertama yang menyusun buku mengenai kedokteran anak. Sesudahnya, ilmu kedokteran berada ditangan Ibn Sina. Ibn Sina yang juga seorang filosof berhasil menemukan sistem peredaran darah pada manusia. Diantara karyanya adalah al-Qoonuun fi al-Thibb yang merupakan ensiklopedi kedokteran paling besar dalam sejarah. Dalam bidang optikal Abu Ali al-Hasan ibn al-Haythami, yang di Eropa dikenal dengan nama Alhazen, terkenal sebagai orang yang menentang pendapat bahwa mata mengirim cahaya ke benda yang dilihat. Menurut teorinya yang kemudian terbukti kebenarannya bendalah yang mengirim cahaya ke mata. Di bidang kimia, terkenal nama Jabir ibn Hayyan. Dia berpendapat bahwa logam seperti timah, besi dan tembaga dapat diubah menjadi emas atau perak dengan mencampurkan suatu zat tertentu. Di bidang matematika terkenal nama Muhammnad ibn Musa al-Khawarizmi, yang juga mahir dalam bidang astronomi. Dialah yang menciptakan ilmu aljabar. Kata "aljabar" berasal dari judul bukunya, al-Jabr wa al-Muqoibalah. Dalam bidang sejarah terkenal nama al-Mas'udi. Dia juga ahli dalam ilmu geografi. Diantara karyanya adalah Muuruj al-Zahab wa Ma'aadzin al-Jawahir. Tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat, antara lain al-Farabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Al-Farabi banyak menulis buku tentang filsafat, logikq jiwq kenegaraan, etika dan interpretasi terhadap filsafat Aristoteles. Ibn Sina juga banyak mengarang buku tentang filsafat. Yang terkenal diantaranya ialah al-Syifa'. Ibn Rusyd yang di Barat lebih dikenal dengan nama Averroes, banyak berpengaruh di Barat dalam bidang filsafat, sehingga di sana terdapat aliran yang disebut dengan verroisme. Demikianlah kemajuan politik dan kebudayaan yang pernah dicapai oleh pemerintahan Islam pada masa klasik, kemajuan yang tidak ada tandingannya di kala itu. Pada masa ini kemajuan politik berjalan seiring dengan kemajuan peradaban dan kebudayaarl sehingga Islam mencapai masa keemasan, kejayaan dan kegemilangan. Masa keemasan ini mencapai puncaknya terutama pada masa kekuasaan Bani Abbas periode pertama. Namun sayang, setelah periode ini berakhir, Islam mengalami masa kemunduran.[20]
E.     Runtuhnya bani abbasiyah
Walaupun abbasiyah telah mencapai puncak kemajuan namun akhirnya juga mengalami kemunduran dan kehancuran. adapun faktor yang mepengaruhinya arrtara lain:
1.      Faktor internal
Faktor internal ini disebabkan karena adanya konflik aliran pemikiran dalam Islam yang sering menyebabkan imbulnya konflik berdarah kemorosotan ekonomi akibat kemunduran politik, munculnya dinasti-dinsti kecil yang memerdekakan diri dari kekuasaan pusat baghdad dan adanya persaingan tidak sehat dari berbagai unsur ketunrnan yang saling berebut dan kekuasaan
2.      Faktor eksternal
Faktor eksternal ini disebabkan karena adanya perang salib yang terjadi dalam beberapa gelombang dan hadirnya tentara Mongol dibawah pimpinan Hulangu Khan.[21]
Sebab-sebab Kemunduran Pemerintahan Bani Abbas (Masa Disintegrasi)
a.       Masa disintegrasi ini terjadi setelah pemerintahan periode pertama Bani Abbasiyah mencapai nusa keemasannya, pada masa berikutnya pemerintahan dinasti ini mulai menurun, terutama di bidang politik. Dimana salah satu sebabnya adalah kecenderungan penguasa untuk hidup mewah dan kelemahan khalifah dalam memimpin roda pemerintahan.
b.      Berakhirnya kekuasaan dinasti Seljuk atas Bagbdad atau khilafah Abbasiyah merupakan awal dari periode kelima. Pada periode rni khalifah Abbasiyah tidak lagi berada di bawah kekuasaan suatu dinasti tertentu, walaupun banyak sekali dinasti Islam berdiri. Ada diantaranya yang cukup besar, namun yang terbanyak adalah dinasti kecil. Para khalifah Abbasiyah, sudah merdeka dan berkuasa kembali, tetapi hanya di Baghdad dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan khalifah yang sempit ini menunjukkan kelemahan politiknya. Pada masa inilah tentara Mongol dan Tartar menyerang Baghdad. Baghdad dapat direbut dan dihancurluluhkan tanpa perlawanan yang berarti. Kehancuran Baghdad akibat serangan tentara Mongol ini awal babak baru dalam sejarah Islam yang disebut masa pertengahan.
c.       Sebagaimana terlihat dalam periodisasi khilafah Abbasiyah, masa kemunduran dimulai sejak periode kedua. Namun demikian, faktor-faktor
penyebab kemunduran itu tidak datang secara tiba-tiba. Benih-benihnya sudah terlihat pada periode pertama, hanya karena khalifah pada periode ini sangat kuat, benih-benih itu tidak sempat berkembang. Dalam sejarah kekuasaan Bani Abbas terlihat bahwa apabila khalifah kuat, para menteri cenderung berperan sebagai kepala pegawai sipif tetapi jika khalifah lemab
mereka akan berkuasa mengatur roda pemerintahan.
Disamping kelemahan khalifatr, banyak faktor lain yang menyebabkan khilafah Abbasiyah menjadi mundur, masing-masing faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:
1.      Persaingan antar Bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan orang-orang Persia. Persekutuan dilatarbelakangi oleh persamaan nasib kedua golongan itu pada masa Bani Umayyah berkuasa. Keduanya sama-sama tertindas. Setelah khilafah Abbasiyah berdiri, dinasti Bani Abbas tetap mempertahankan persekutuan itu Menurut Stryzewska, ada dua sebab dinasti Bani Abbas memilih orang-orang Persia dgifada orang-orang Arab. Pertama sulit bagi orang-orang Arab untuk melupakan Bani Umayyah Pada masa itu mereka merupakan warga kelas satu. Kedua -orang-orang Arab sendiri terpecah belah dengan adanya Nashabiyah (kesukuan). Dengan demikian, khilafah Abbasiyah tidak ditegakkan di atas Nashabiyah tradisional. Meskipun demikian, orang-orang Persia tidak merasa puas. Mereka menginginkan sebuah dinasti dengan raja dan pegawai dari Persia pula. Sementara itu bangsa Arab beranggapan bahwa darah yang mengalir ditubuh mereka adalah darah (ras) istimewa dan mereka menganggap rendah bangsa non-Arab di dunia Islam. Selain itu, wilayah kekuasaan Abbasiyah pada periode pertama sangat luas, meliputi berbagai bangsa yang berbeda seperti Maroko, Mesir, Syria, Irak Persia Turki dan India. Mereka disatukan dengan bangsa Semit. Kecuali Islanr, pada waktu itu tidak ada kesadaran yang merajut elemen-elemen yang bermacam-tnacam tersebut dengan kuat. Akibatnya, disamping fanatisme kearaban, muncul juga fanatisme bangsa-bangsa lain yang melahirkan gerakan syu'ubiyah. Fanatisme kebangsaan ini nampaknya dibiarkan berkembang oleh penguasa. Sementara itu, para khalifah menjalankan sistem perbudakan baru. Budak-budak bangsa Persia atau Turki dijadikan pegawai dan tentara. Mereka diberi nasab dinasti dan mendapat gaji. oleh Bani Abbas, mereka dianggap sebagai hamba. Sistem perbudakan ini telah mempertinggi pengaruh bangsa persia dan Turki. Karena jumlah dan kekuatan mereka yang besar, mereka merasa bahwa negara adalah milik mereka; mereka mempunyai kekuasaan atas rakyat berdasarkan kekuasaan khalifah. Kecenderungan masing-masing bangsa untuk mendominasi kekuasaan sudah dirasakan sejak awal khalifah Abbasiyah berdiri. Akan tetapi, karena para khalifah adalah orang-orang kuat yang mampu menjaga keseimbangan kekuatan, stabilitas politik dapat terjaga. setelah al-Mutawakkil, seorang khalifah yang lema[ naik tahta dominasi tentara Turki tak terbendung lagi. Sejak itu kekuasaan Bani Abbas sebenarnya sudah berakhir. Kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki. Posisi ini kemudian direbut oleh Bani Buwailr, bangsa Persia pada periode ketiga, dan selanjutnya beralih kepada dinasti Seljuk pada periode keempat, sebagaimana diuraikan terdahulu.
2.      Kemerosotan Ekonomi
Khilafah Abbasiyah juga mengalami kemunduran di bidang ekonomi bersamaan dengan kemunduran di bidang politik. Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas merupakan pemerintahan yang kaya Dana yang
masuk lebih besar dari yang keluar, sehingga Bait al-Mal penuh dengan harta. Pertambahan dana yang besar diperoleh antara lain dari al-Kharaj, semacam pajak hasil bumi. Setelah khilafah memasuki periode kemunduran, pendapatan negara menurun sementara pengeluaran meningkat lebih besar. Menurunnya pendapatan itu disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan, banyaknya terjadi kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat. diperingannya pajak dan banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak lagi membayar upeti. Sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan oleh kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah. jenis pengeluaran makin beragam dan para pejabat melakukan korupsi. Kondisi politik yang tidak stabil menyebabkan perekonomian negara morat-marit. Sebaliknya kondisi ekonomi yang buruk memperlemah kekuatan politik dinasti Abbasiyah kedua, faktor ini saling berkaitan dan tak terpisatikan.

3.      Konflik Keagamaan
Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan. Karena cita- cita orang Persia tidak sepenuhnya tercapai, kekecewaan mendorong sebagian mereka mempropagandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme dan Mazdakisme. Munculnya gerakan yang dikenal dengan gerakan Zindiq ini menggoda rasa keimanan para khalifah. Al-Manshur berusaha keras memberantasnya. Al-mahdi bahkan merasa perlu mendirikan jawatan khusus untuk mengawasi kegiatan orang-orang Zindiq dan melakukan mihnah dengan tujuan memberantas bid’ah. Akan tetapi, Semua itu tidak menghentikan kegiatan mereka. Konflik antara kaum beriman dengan golongan Zindiq berlanjut mulai dari bentuk yang Sangat sederhana seperti polemic tentang ajaran, sampai kepada konflik bersenjata yang menumpahkan darah dikedua belah pihak. Gerakan al-Afsyin dan Qaramithah adalah contoh konflik bersenjata itu. Pada saat gerakan ini mulai tersudut, pendukungnya banyak berlindung dibalik ajaran Syi'ah, sehingga banyak aliran Syi’ah yang dipadang ghulat (ekstrim) dan dianggap menyimpang oleh penganut Syi’ah sendiri. Aliran syi’ah memang dikenal sebagai aliran politik dalam Islam yang berhadapan dengan paham  Ahlussunnah. Antara keduanya sering terjadi konflik yang kadang-kadang juga melibatkan penguasa. Al-Mutawakkil misalnya, memerintahkan agar rnakam Husein di Karbela dihancurkan' Namun anaknya' al-IrEntashir (861- 862M.), kernbali memperkenankan orang syi'ah “menziarahi'' makam Husein tersebut. Syi’ah pernah berkuasa di dalam khilafah Abbasiyah melalui Bani Buwaih lebih dari seratus tahun. Dinasti ldrisiyah di Marokko dan khilafah Fathimiyah di Mesir adalah dua dinasti Sy’ah yang memerdekakan diri dari Baghdad yang sunni. Konflik yang dilatarbelakangi agama tidak terbatas pada konflik antara muslim dan zindiq atau Ahlussunnah dengan Syi'ah saja, tetapi juga antar aliran dalam lslam Mu'tazilah yang cenderung rasional dituduh sebagai pembuat bid’ah oleh golongan salaf. Perselisihan antara dua golongan ini dipertajam oleh al-Ma’mun, khalifah ketujuh dinasti Abbasiyah (813-S33 M.), dengan menjadikan mu'tazilah sebagai mazhab resmi negara dan melakukan mihnah. Pada masa al-Mutawakkil (847-861), aliran Mu'tazilah dibatalkan sebagai aliran negara dan golongan salaf
kembali naik daun. Tidak tolerannya pengikut Hanbali itu (salaf) terhadap Mu'tazilah yang rasional telah menyempitkan horizon intelelcual. Aliran Mu'tazilah bangkit kembali pada masa dinasti Buwaih. Namun pada masa dinasti Seljuk yang menganut aliran Asy'ariyyalr" penyingkiran golongan Mu'tazilah mulai dilalcukan secara sisternatis. Dengan didukung penguasa aliran Asy'ariyah tumbuh subur dan berjaya. Pikiran-pikiran al-Ghazali yang mendukung aliran ini menjadi ciri utama paham Ahlussunnah. Pemikiran-pemikiran tersebut mempunyai efek yang tidak menguntungkan bagi pengembangan kreativitas intelektual Islam, konon sampai sekarang. Berkenaan dengan konflik keagamaan itu, syed Ameer Ali mengatakan:
“Agama Muhammad SAW seperti juga agama Isa as, terkeping-keping oleh perpecahan dan perselisihan dari dalarn Perbedaan pendapat mengenai soal-soal abstrak yang tidak mungkin ada kepastiannya dalam suatu kehidupan yang mempunyai akhir, selalu menimbulkan kepahitan yang lebih besar dan permusuhan yang lebih sengit dari perbedaan-perbedaan mengenai hal-hal yang masih dalam lingkungan pengetahuan manusia. Soal kehendak bebas manusia... telah menyebabkan kekacauan yang rumit dalam Islam… Pendapat bahwa rakyat dan kepala agama mustatril berbuat salah ... menjadi sebab binasanya jiwa-jiwa berharga".
4.      Ancaman dari Luar
Apa yang disebutkan di atas adalah falftor-faktor intemal. Disamping itu, ada pula faktor-faktor eksternal yang menyebabkan khilafah Abbasiyah lemah dan akhirnya hancur. Pertama, Perang salib yang berlangsung beberapa gelombang atau periode dan menelan banyak korban. Kedua serangan tentara Mongol ke wilayah kekuasaan Islam. Sebagaimana telah disebutkan' orang-orang Kristen Eropa terpanggil untuk ikut berperang setelah Paus Urbanus II (1088-1099 M) mengeluarkan fatwanya. Perang salib itu juga membakar semangat perlawanan orang-orang Kristen yang berada di wilayah kekuasaan Islam. Namun, diantara komunitas-komunitas Kristen Timur, hanya Armenia dan Maronit Lebanon yang tertarik dengan Perang Salib dan melibarkan diri dalam tentara Salib itu. Pengaruh Salib juga terlihat dalam penyerbuan tentara Mongol. Disebutkan bahwa Hulagu Khan panglima tentara Mongol sangat membenci Islam karena ia banyak dipengaruhi oleh orang-orang Budha dan Kristen Nestorian. Gereja-gereja Kristen berasosiasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam itu dan diperkeras di kantong-kantong ahl al-kitab. Tentara Mongol setelah menghancur leburkan pusat-pusat Islam, ikut memperbaiki. Tak banyak terkisahkan pada sejanh Daulat Abbasiyah akhir Abad 9 dan awal Abad 10. Terutama sefak Khalifah Al-Mutaurakkil meninggal pada 867 Masehi. Riwayat hanya menyebut bahwa pemerintahan Bagbdad terus dikuasai oleh para panglima militet berdarah Tuki. Para panglima itu yang mengangkat khalifah dari keturunan khalifah-khalifah terdahulu. Narnun meteka hanya diiadikan simbol Badri Yatim dalam "Sejarah Peradaban Islam" mencatat adanya 12 khalifah saat Daulat Abbasiyah dikuasai para panglima militer Turki. Hanya empat Hralifah yang diganti karena meninggal secara wajar Delapan lainnya diturunkan secara paksa oleh militer, bahkan juga dibunuh. Keadaan ini menjadikan wibawa Dinasti Abbasiyah semakin merosot. Satu pet satu wilayah melepaskan diri dari kendali pusat. Simbol-simbol peradaban, seperti ilmu pengetahuan, kesenian dan sastra, tidak lagi berkembang. Satu-satunya paham keagamaan yang tumbuh pada masa ini adalah pemikiran Abu Hasan Al-Asy'ari (873-935), yang kerap disebut aliran tradisional dalam teologi. Al-Asy'ari sempat belajar Paham mu'tazilah yang banyak dipengaruhi oleh logika Yunani. Ia lalu mengkritisi paham tersebut dengan mengambil pendekatan tekstul dan tradisi. Sejarah pemikiran Islam kemudian banyak diwarnai tarik-menarik kedua pendekatan tersebut, sampai sekarang Wibawa kekhalifahan Abbasiyah bangkit kembali setelah kekuasaan ditangan kehrarga Buwaih. Khalifah, lagi-lagi hanya menjadi simbol sebagaimana Kaisar Jepang di era Tokugawa. Ketika wazir (perdana menteri) dan militer bertikai, khalifah menyerahkan kekuasaan pada tiga kakak beradik Ali, Hasan dan Ahmad -anak Abu Syuja' Buwaih, nelayan miskin dari Dailam. Ahmad memegang kendali di Baghdad, Ali menguasai wilayah Persia Selatan yang berpusat di Syiraz. Hasan berkuasa di Persia Utara, termasuk kota Ray dan Isfahan. Di awal masa Bani Buwaih (945-1055), kemekmuran kembali berkembang di wilayah kekhalifahan Abbasiyah. Pembangunan gedung pun semarak Industri karpet berkembang pesat. Intelektual bermunculan. Antara bin Ibnu Sina (980-1037), penulis Qanun fi Al-Thibb yang menjadi rujukan ilmu kedokeran Batat sampai Abad 19. Juga Al Farabi yang wafat pada 950 Masehi dan Al-Maskasraih (wafat 1030 Masehi). Namun dalam keagamaan, terjadi kerancuan paham. Kekhalifahan menganut paham Sunni sedangkan Bani Buwaih berpaham Syiah. Lagi-lagi pertikaian keluarga, membuat kekuatan Bani Buwaih merosot. Kekhalifahan Abbasiyah kehilangan pamor lagi. Di Mesir, berdiri Kesultanan Fathimiyah. Di Afghanistan, keluarga Ghaznawiyah memerdekakan diri. Kemudian muncul dinasti Seljuk yang betawal dari kabilah-kabilah kecil di Turkistan yang berhasil dipersatukan oleh Seljuk anak Tuqaq. Pemimpin Seljuk kemudian Thugrul Beg berhasil merebut beberapa wilayah kekhalifahan Abbasiyah. Tak seperti Bani Buwaih, mereka menganut paham Sunni. Atas undangan Khalifah Qaim, Thugrul Bek memasuki Baghdad. Para keturunannya kemudian menyetir kekuasaan di Baghdad. Banyak keluarga Seljuk lainnya membangun kekuasaan kecil-kecil di luar Baghdad. Sejarah mencatat masa terpenting kekuasaan Seljuk terjadi pada kepernimpinan Alp Arselan (1063-1072). Khalifah masa itu adalah Sultan Maliksyah, dengan Nizham Al-Mulk sebagai Perdana Menteri Nizham membangun Univetsitas Nizhamiyah pada 1065 di Baghdad. Inilah yang disebut model pertama universitas yang kini dikenal dunia. Di berbagai kota di Irak dan Khurasan didirikan cabang universitas ini. Nizham iuga membangun Madrasah Hanafiah. Ilmu pengetahuan berkembang dengan pesat. Banyak intelektual lahir pada masa ini. Diantannya Zamakhzyari di bidang tafsir dan teologi, Qusyairi di bidang tafsir, Imam Al-Ghazali sebagai tokoh tasawuf, juga sastrawan Fariduddin Attat dan Omar Kayam. Di militer, 15.000 pasukan Alp Arselan mengelahkan pasukan gabungan Romawi, Perancis dan Amerika. Sepeninggal Arselan, pasukan itu malah merebut kota Yetusalem dari Dinasti Fathimiyah pada 471 Hijrah, atau 1078 Masehi. Inilah peristiwa yang menyulut terladinya Perang Salib. Waktu berlalu. Kekhalifahan melemah. Hampir setiap propinsi melepaskan diri Pada 1199, kekuasaan Keluarga Seljuk di Baghdad berakhir. Para khalifah keturunan Abbas masih melanjutkan kepemimpinan negara. Namun hanya terbatas di sekitar Baghdad. Pada 1258, tiba-tiba sekitar 200 ribu pasukan Mongol muncul di bibir kota Baghdad di bawah komando Hulagu Khan. Khalifah Al-Mu'tashim menyerah. Ia menyangka Hulagu Khan hendak menikahkan anak perempuannya dengan Abu Bakar, putra khalifah. Maka khalifah dan seluruh pembesar istana datang ke kemah Hulagu membawa berbagai hadiah. Di tempat itulah, Hulagu memengal leher khalifah dan seluruh pengikutnya satu per satu. Kota Baghdad dihancurkan. Seluruh kegemilangan yang dibangun oleh Al-Mansyur, dan kemudian juga oleh Harun Al-Rasyid itu luluh lantak. Baghdad kembali rata dengan tanah.[22]

F.     Kesimpulan
Pada dinasti abbasiyah ini cara penyerahan imam atau pemimpin umat berdasarkan bentuk legitimasi mulai dari kholifah al-abbas tapi pada waktu kholifah al-mahdi cara ini dihilangkan Dan ciri kholifah pada dinasti abbasiyah ini mempunyai kedudukan yang tinggi diatas yang lain bal ini bisa dilihat dari julukan/gelar tahta yang dipakai bani abbasiyatr yang dipunyai oleh para kholifah antara lain adalah mengadung eksatologis, misal: as-Saffah yang berarti kemuliaan dan kebengisan berdarah dalam melaksanakan balas dendam ilahi al-Mansur yanng berarti kholifah dipillih untuk renerima bantuan dari Alloh, al-Mahdi yang berarti mendapat petunjuk, al-Mutawakil yang berarti berserah diri. Dan untuk bertemu dengan kholifah tersebut perlu adanya penciuman tanah dihadapannya hal ini tidak sesuai dengan syari'at islam karena yang berhak disembah hanyalah Alloh, sedangkan kholifah hanya peminpin sebuah negara. selain hal itu yang bertentangan dengan syari'at islam adalah adanya algojo yang siap untuk membunuh orang disebabkan karena hanya perkataannya hal ini jika dipandang dari segi syari'ah hidup mati seseorang itu penekanannya pada pribadi dan itu semua diatur oleh hokum tuhan. walaupun hal itu jika dipandang dari kaum absolutis cara-cara tersebut merupakan alat-alat esensial untuk memutuskan hak hak istemewa. Dan dari pemerintahan dinasti ini mulai adanya jabatan wazir, atau perdana menteri yang bertugas mengendalikan pemerintah dibawah kholifah.
Pada dinasti abbasiyah ini adalah merupakan masa keemasan islam yang bisa mencapai puncak keemasannya yaitu eksisitensi islam sebagai agama kaffah dan rahmatan lil'alamin terbukti yaitu berbagai unsur kebudayaan dan peradaban diikat erat satu nafas yaitu ajaran islam memberikan semangat dan motivasi untuk saling mengenal dari berbagai perbedaan suku dan bangsa yang pada akhirnya menghasilkan perkembangan ilmu dan kebudayaan. Ilmu kebudayaan itu antara lain: munculnya para tokoh empat madhab, ahli filsafat, perkembangan ilmu, filsafat dan sastr4 kedokteran, ilmu matematika, astronomi, pengetahuan agama dimulai berkembangnya tafsir, dan tumbuhnya industri dan perdagangan dan tumbuhnya sistem perbankan yang rumit.


DAFTAR RUJUKAN

Watt, Montgomery . Kejayaan Islam Kajian Kritis dari Tokoh Oreantallis.
.Yogyakarta: PT.Tiara Wacana I 990.
Yatun, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000.
Mansur.Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah .Yogyakarta: Global Pustaka
Utama 2004.
Nurhakinn, Moh. Sejarah Peradaban Islam. Malang: Press Univesitas
Muhamadiyatu 2004.
Hodgson, Marshall. The Venture of Islam.Jakarta: Para Madina,2002.
Amstrong,Karen. Islam A Short History. Jakarta: Ikon,2002






SILSILAH KHILAFAH ABBASIYAH (1)


SILSILAH DINASTI ABBASIYAH

AL-MUTAWAKKIL

























        Catatan : Nama Kalifah dengan huruf kapital
AL-MUNTASIR
 


[1] W. Montogomery Watt, KEjayaan Islam Kajian Kritis dari Tokoh Oreantallis (Yogyakarta: PT.Tiara Wacana, 1990), 31.
[2] Badri Yatim Sejarah Peradaban Islam (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), 49.
[3] Mansur, Peradapan Islam dalam Lintasan Sejarah (Yogyakarta: Global Pustaka Utama 2004),34.
[4] Moh. Nurhakim, Sejarah Peradaban Islam (Malang: Press Univesitas Mutramadiyah, 2004),63.
[5] Badri, Sejarah Peradaban Islam, 49.
[6] Marshall G. S. Hodgson, The Venfure of Islam (Jakarta: Para Madina,2002),72.
[7] Karen Amsrtong, Islam A Short History (Jakarta: Ikon,2002),64.
[8] Marstrall G. S. Hodgson, The Venfure of Islam, 69.
[9] Badri, Sejarah Peradaban Islam, 51
[10] Moh. Nur Hakim,-Seiarah Peradaban Islam.64.
[11] Badri, Sejarah Peradaban Islam, 52
[12] Marshall, The Venture of Islam, 74.
[13] Badri, Sejarah Peradaban Islam, 52.
[14] Marshall. The Venture of Islam, 75.
[15] Amstrong, Islam A Short History, 73.
[16] Ibid., 64
[17] Badri, Sejarah Peradaban Islam,54.
[18] Amstrong, Islam A Short History, 66.
[19] Mansur, Peradaban Islam,  36.
[20] WWW. Pesantren internet.
[21] W. Montgomery Watt, Kejayaan Islam Kajian Kritis dari Tokoh Oreartallis (Yogyakarta: PT-Tiara Wacanq I 990), 37-
[22] www. Pesantren internet.com

0 komentar:

Poskan Komentar